• MTS NEGERI 2 TEGAL
  • Berkarakter, Modern, & Dinamis

PROBLEMATIKA PEMBELAJARAN DARING DI ERA PANDEMI COVID-19

Oleh : Yudhi Adil Amrulloh, S.Pd

 

Sudah sejak maret 2020 Indonesia memasuki status pandemi karena Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 yang telah menginfeksi jutaan orang di lebih dari 200 negara di dunia dan menyebabkan banyak kematian. Pandemi di era COVID-19 mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan, tak terkecuali aspek pendidikan (Anderson, 2020). Hingga April 2020, lebih dari 400 juta siswa di dunia diwajibkan untuk belajar di rumah (Domenico et al., 2020; Gee, 2020; UNESCO, 2020c). Banyak Lembaga pendidikan di dunia harus ditutup secara offline sementara, mengikuti instruksi pemerintah di negara masing-masing, sehingga itu semua mempengaruhi sistem akademik.

Di Era pandemi ini, Para pemegang kebijakan harus menemukan alternatif baru untuk melaksanakan pembelajaran, dan kelas virtual atau pembelajaran daring adalah jalan terbaik yang paling mungkin dilakukan (Arora & Srinivasan, 2020). Pembelajaran daring saat ini dijadikan solusi dalam masa pandemic COVID-19. Tetapi pembelajaran daring tidak mudah seperti yang dibayangkan.  Menurut kompas, 28/03/2020 dampak virus COVID-19 terjadi diberbagai bidang seperti sosial, ekonomi, pariwisata dan pendidikan. Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan pemerintah pada 18 Maret 2020 menjelaskan bahwa segala kegiatan didalam dan diluar ruangan di semua sektor sementara waktu ditunda demi mengurangi penyebaran corona terutama pada bidang pendidikan. Maka dari itu, pada tanggal 24 maret 2020 Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan Dalam Masa Darurat Penyebaran COVID, dalam Surat Edaran tersebut dijelaskan bahwa proses belajar dilaksanakan di rumah melalui pembelajaran daring/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Belajar di rumah dapat difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup antara lain mengenai pandemi Covid-19.


Secara teori, pembelajaran daring merupakan pemanfaatan jaringan internet dalam proses pembelajaran. Salah satu tujuan pembelajaran daring adalah siswa memiliki keleluasaan waktu belajar, dapat belajar kapanpun dan dimanapun. Siswa dapat berinteraksi dengan guru menggunakan beberapa aplikasi seperti classroom, video converence, telepon atau live chat, zoom maupun melalui whatsapp group. Menurut Tim Kompas (2020), laporan dari sejumlah daerah di Indonesia menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran daring belum berjalan optimal, terutama di daerah pelosok dengan teknologi dan jaringan internet terbatas. Gambar 2 menunjukkan bahwa pada tahun 2018 saja secara nasional hanya 39,90% penduduk yang mengakses internet. Kesiapan infrastruktur sekolah, kemampuan guru mengajar secara daring, serta ketersediaan sarana smartphone menjadi persoalan lain dalam penerapan pembelajaran daring di Indonesia.

Pelaksanaan pembelajaran daring bukan tanpa masalah. Di beberapa negara, dilaporkan bahwa di antara mereka yang mengadopsi pembelajaran daring, rata-rata manfaat sebenarnya jauh lebih kecil daripada yang diharapkan. Masalah jaringan, kurangnya pelatihan, dan kurangnya kesadaran dinyatakan sebagai tantangan utama yang dihadapi oleh pendidik. Kurangnya kesadaran dinyatakan sebagai alasan paling penting oleh mereka yang tidak mengadopsi pembelajaran daring diikuti oleh kurangnya minat dan keraguan tentang kegunaan pembelajaran daring. Kurang kehadiran, kurangnya sentuhan pribadi, dan kurangnya interaksi karena masalah konektivitas ditemukan menjadi kelemahan signifikan dari pembelajaran daring (Arora & Srinivasan, 2020).

Menurut Agus, dkk dalam penelitiannya yang berjudul “Studi Eksploratif Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Proses Pembelajaran Online di Sekolah Dasar” dampak COVID-19 terhadap proses pembelajaran online di sekolah dasar berdampak terhadap siswa, orang tua dan guru itu sendiri.

Beberapa dampak yang dirasakan murid yaitu murid belum ada budaya belajar jarak jauh karena selama ini sistem belajar dilaksanakan adalah melalui tatap muka, murid terbiasa berada di sekolah untuk berinteraksi dengan teman- temannya, bermain dan bercanda gurau dengan teman-temannya serta bertatap muka dengan para gurunya, dengan adanya metode pembelajaran jarah jauh membuat para murid perlu waktu untuk beradaptasi dan mereka menghadapi perubahan baru yang secara tidak langsung akan mempengaruhi daya serap belajar mereka. Ada juga dampak terhadap orang tua yaitu kendala yang dihadapi para orang tua salah satunya terdapat penambahan biaya pembelian kuota internet, ketersediaan gawai canggih serta teknologi online memerlukan koneksi jaringan ke internet. Dampak lain juga dirasakan oleh guru yaitu tidak semua guru mahir menggunakan teknologi internet atau media sosial sebagai sarana pembelajaran, beberapa guru senior belum sepenuhnya mampu menggunakan perangkat atau fasilitas untuk penunjang kegiatan pembelajaran online dan perlu pendampingan dan pelatihan terlebih dahulu.

Jadi, dukungan dan kerjasama orang tua demi keberhasilan pembelajaran sangat dibutuhkan. Komunikasi guru dan sekolah dengan orang tua harus terjalin dengan lancer agar pembelajaran daring bisa berimbas positif bagi para siswa tentunya karena siswa masih menjadi subjek vital dalam proses belajar mengajar.

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
KSM DAN MYRES AJANG PRESTASI MENUJU MADRASAH HEBAT BERMARTABAT

Oleh: Bambang Cahyono, S.Ag. (Guru Mapel IPS/Pembina KSM IPS MTsN 2 Tegal)   Assalaamu’alaikum wr., wb. Bagaimana kabar kalian hari ini, penulis  berharap kalian selalu

23/06/2021 05:29 - Oleh Administrator - Dilihat 1252 kali
Suka Duka Belajar Online saat Pandemi Corona

Oleh: Muhammad Akhwash Al Hakim (Kelas 8 FDS 3)   Pandemi Corona atau coronavirus disease 2019 (covid 19) memberikan banyak pelajaran berharga dalam setiap sendi kehidupan. Sebagia

23/06/2021 05:28 - Oleh Administrator - Dilihat 2497 kali